Ekbis Pertanian

Rabu, 25 November 2020 - 15:02 WIB

6 bulan yang lalu

logo

Kaum Muda Dusun Nawute'u, Desa Kolisia B, Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka sedang mengikuti kegiatan pelatihan irigasi tetes, dengan membantu memasang pipa irigasi tetes bersama Fasilitator, Direktur Yayasan Sao Mere, Kasianus Sebho dan Direktur PAPHA Maumere, Bernardus Lewonama Hayon. (Foto: Yeremias Y. Sere)

Kaum Muda Dusun Nawute'u, Desa Kolisia B, Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka sedang mengikuti kegiatan pelatihan irigasi tetes, dengan membantu memasang pipa irigasi tetes bersama Fasilitator, Direktur Yayasan Sao Mere, Kasianus Sebho dan Direktur PAPHA Maumere, Bernardus Lewonama Hayon. (Foto: Yeremias Y. Sere)

Sistem Irigasi Tetes, Inovasi Pertanian Hortikultura

Sikka, Floreseditorial.com – Puluhan kaum muda di Dusun Nawute’u, Desa Kolisia B, Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), mengikuti pelatihan menggunakan sistem irigasi tetes, pada Senin (23/11/2020). Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Perkumpulan Aktivis Peduli Hak Anak (PAPHA) Maumere, didukung oleh The Samdhana Institute.

Direktur PAPHA Maumere, Bernardus Lewonama Hayon, mengatakan, kegiatan pelatihan menggunakan sistem irigasi tetes pada tanaman hortikultura, dimaksudkan agar anak-anak dan kaum muda bisa belajar cara bertani secara modern. Karena bertani, menurutnya, sangat potensial hingga perlu adanya sentuhan teknolgi seperti irigasi tetes untuk memudahkan penyiraman, hemat air, hemat tenaga dan lebih efisien.

“Jadi, kita memperkenalkan irigasi tetes karena di sini airnya susah, di mana hal itu merupakan dampak perubahan iklim. Sehingga, kita dorong anak-abak untuk bertani tetapi sesuai kondisi yang mereka hadapi sekarang ini,” sebutnya.

Pantauan media, kegiatan tersebut berlangsung selama dua hari, di mana hari pertama peserta mendapat teori dan motivasi untuk budidaya tanaman hortikultura. Pada hari kedua, dilanjutkan dengan praktik membuat pupuk organik, menyemai bibit dan instalasi pipa irigasi tetes di atas lahan percontohan seluas 15 x 20 meter.

Bernardus menambahkan, kaum muda dan anak-anak sangat antusias dan aktif mengikuti kegiatan itu. Menurutnya, karena di daerah tersebut kekurangan air, sehingga mereka harus membuat medium bak penampung air menggunakan terpal, di mana airnya diambil dari sumur bor. Dengan menggunakan dinamo, air yang ditampung menggunakan terpal tersebut akan dialirkan ke pipa irigasi tetes menuju tanaman.

Untuk memberikan pelatihan dan pendampingan pada kegiatan tersebut, pihaknya mendatangkan Fasilitator dari Yayasan Sao Mere, Kabupaten Nagekeo. Terhadap Fasilitator tersebut, diakuinya, yang bersangkutan memiliki kemampuan, pemahaman, pengalaman yang profesional di bidang irigasi tetes.

“Yayasan Sao Mere juga bergerak untuk anak-anak dan kaum muda, sehingga kami meminta Beliau (Fasilitator, red) untuk mendampingi anak-anak dan kaum muda di sini, karena mereka adalah kelompok yang rentan dan perlu perlakuan yang berbeda,” terangnya.

Ia berharap, anak muda di Dusun Nawute’u punya itikad baik untuk mau bertani, karena bertani merupakan pekerjaan yang mulia dan bisa mendatangkan uang. Selama ini, sebutnya, pekerjaan sebagai petani dinilai sebagai pekerjaan yang kotor dan tak dapat dibanggakan. Namun sebaliknya, semua orang bisa bercita-cita untuk jadi petani karena itu prospek yang menjanjikan.

“Jadi, mereka jangan merasa hina kalau menjadi petani. Mereka harus bertani secara cerdas sebagai orang berpendidikan, karena saat ini mereka sementara mengeyam pendidikan dari sekolah-sekolah. Mereka bisa mengembangkan dengan pola dan inovasi yang baru serta berbeda,” ungkapnya.

Senada, Direktur Yayasan Sao Mere (Solidaritas Anak, Orang Muda dan Perempuan) Kabupaten Nagekeo, Kasianus Sebho, yang menjadi Fasilitator dalam kegiatan tersebut, menjelaskan, Yayasan Sao Mere memiliki fokus dalam pengembangan orang muda dan perempuan. Menurutnya, saat ini pihaknya sedang berkonsentrasi demi pengembangan ekonomi melalui irigasi tetes untuk tanaman hortikultura. Untuk itu, pihaknya juga selama ini sudah memiliki dua hektar lahan percontohan, dan dalam waktu dekat akan melaunching Sekolah Lapang untuk kaum muda yang putus sekolah maupun yang sudah sarjana, di mana pihaknya juga bekerja sama dengan Wahana Visi Indonesia (WVI) dan Power Agro.

“Kita buka sekolah untuk anak-anak yang putus sekolah maupun yang sudah sarjana. Mereka akan magang selama dua bulan dan kita akan berikan kredit bersama dengan Bank, serta akan kita dampingi hingga pemasaran hasilnya,” jelasnya. 

Ia mengakui, pihaknya sudah lama mengenal PAPHA Maumere, yang selama ini mendampingi anak-anak muda mulai dari SMP hingga Sarjana. Terhadap petani, sebutnya, banyak petani yang produktif di usia yang nonproduktif. Artinya, usia di atas 40 tahun yang produktif jadi petani, sedangkan kaum muda rata-rata tidak memiliki cita-cita menjadi petani. Hal itu dibuktikan ketika pihaknya memberikan pelatihan menggunakan irigasi tetes di Dusun Nawute’u. Dari 17 orang relawan, hanya satu orang saja yang memiliki cita-cita menjadi petani.

“Kita akan coba tanam tomat di atas lahan percontohan ini. Memang permintaan kaum muda di sini untuk tanam bermacam-macam. Saya katakan, para petani hortikultura harus menanam berdasarkan permintaan pasar, bukan berdasarkan keinginan pribadi,” tuturnya.

Ia mengatakan, dua bulan lalu, harga tomat di Maumere hanya mencapai Rp 2.000 sampai Rp 3.000/kg saja karena semua petani ramai-ramai menanam tomat. Pada bulan ini, harga tomat sudah mencapai Rp 10.000 hingga Rp 20.000/kg. Ia mengatakan, ketika kita semaikan bibit tomat hari ini, awal bulan Desember 2020 kita tanam dan pada bulan Februari 2021 nanti permintaan pasar sangat menjanjikan, karena tomat saat itu sangat jarang pasokannya dan harganya di atas Rp 10.000/kg.

“Kita akan tanam 1.200 pohon tomat. Kalau satu pohon menghasilkan Rp 10.000 berarti sudah Rp 12.000.000, dengan pengeluaran hanya sekitar Rp 3.000.000 saja. Dalam waktu tiga sampai empat bulan, pengahasilan bisa mencapai Rp 12.000.000 dikurangi Rp 3.000.000, sehingga sisa Rp 9.000.0000. Ini yang coba kita pacu kepada mereka dan buat analisa pembanding agar memberikan semangat buat mereka,” terangnya.

Ia menyampaikan, ketika menanam tanaman hortikultura, yang paling menguras tenaga saat penyiraman. Tetapi jika memakai irigasi tetes, maka akan lebih mempermudah penyiraman, hemat tenaga dan adanya peningkatan produktifitas. Ia berharap, ketika kaum muda selesai mengikuti kegiatan pelatihan dan mempraktikannya di lapangan, lahan percontohan ini akan menjadi contoh bagi orang tua kaum muda yang selama ini bertani secara manual.

“Kita akan dampingi mereka sampai memperoleh hasil yang baik. Mereka diharapkan menjadi contoh bagi orang tuanya, sehingga menjadi agen perubahan untuk orang tuanya. Tetapi yang kita tekanan dan tumbuhkembangkan di sini, mereka harus memulai dengan kemandirian, jangan menunggu bantuan dari pemerintah. Ketika mau bekerja, maka bekerjalah hingga mendapatkan hasilnya,” ungkapnya.

Sementara itu, Bernadeta Yefrita, salah seorang relawan kaum muda yang mengikuti kegiatan pelatihan tersebut, menyampaikan, Ia merasa sangat senang dan tertarik, serta semangat tinggi untuk mengikuti pelatihan tersebut. Ketertarikannya itu berdasarkan apa yang dilihatnya selama ini, di mana mereka membantu orang tuanya untuk mengurus kebun sayur. Namun diakuinya, karena sangat kekurangan air, sehingga banyak menguras tenaga untuk penyiraman. Dengan menggunakan irigasi tetes tersebut, Ia merasa lebih dipermudah dalam proses penyiraman, apalagi kondisi lingkungan mereka yang sangat kekurangan air.

“Dalam pelatihan ini, kami diajarkan cara pembibitan dan penyemaian yang agak berbeda dengan kebiasaan di tempat kami ini. Lalu ketika kita mau menanam, kita juga harus melihat permintaan pasar, jenis bibit yang unggul, pemupukan yang bagus dan juga harga dipasaran. Jadi, itu hal-hal baru yang kami dapatkan. Kami harus belajar secara baik, sehingga bisa berbagi ilmu untuk orang tua kami nantinya,” pungkasnya. (ric)

Artikel ini telah dibaca 1138 kali

Baca Lainnya
x