Modifikasi

Kamis, 19 November 2020 - 14:37 WIB

11 bulan yang lalu

logo

Sofa dari botol plastik bekas karya Kaum Muda Waioti melalui Fasilitator, Maria Angelina Deya. (Foto: Yeremias Y. Sere)

Sofa dari botol plastik bekas karya Kaum Muda Waioti melalui Fasilitator, Maria Angelina Deya. (Foto: Yeremias Y. Sere)

Sofa dari Botol Plastik Bekas

Sikka, Floreseditorial.com – Perkumpulan Aktivis Peduli Hak Anak (PAPHA) Maumere, didukung oleh The Samdhana Istitute, memberikan pelatihan pembuatan sofa dari botol plastik bekas kepada kaum muda Kelurahan Waioti, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), bertempat di Aula Kantor Lurah Waioti, Kamis (19/11/2020).

The Samdhana Institute merupakan komunitas aktivis dan praktisi yang bekerja bersama Masyarakat Adat dan Komunitas Lokal, berkolaborasi dengan gerakan masyarakat sipil, menginspirasi, memelihara, dan menumbuhkan komunitas tangguh demi keadilan sosial dan lingkungan di wilayah Asia Tenggara.

Lurah Waioti, Fabian Ronald Edward Woen, saat membuka kegiatan tersebut mengatakan, dirinya sangat bersyukur dan berterima kasih pada PAPHA yang peduli pada kaum muda di Kelurahan Waioti.

Ia menjelaskan, pelatihan seperti ini sangatlah penting karena memiliki banyak manfaat. Selain bisa mengatasi masalah sampah, pelatihan ini juga sangat bernilai ekonomi sebab kaum muda diajarkan membuat sofa dari botol plastik bekas.

“Dengan pelatihan ini, kaum muda diharapkan bisa membuat sofa, memasarkan hasilnya dan bisa mendapatkan uang. Saya juga berharap kepada kaum muda agar bisa menjadi pioner, bisa menjadi pelaku di lapangan dalam hal kebersihan lingkungan dan kesehatan,” jelasnya.

Direktur PAPHA Maumere, Bernardus Lewonama Hayon, mengatakan, isu yang dibangun pihaknya selama ini yakni mengenai perubahan iklim, di mana perubahan iklim tersebut terjadi karena gejala alam dan intervensi manusia, sehingga banyak mata pencaharian dapat menyumbangkan emisi yang berpengaruh pada perubahan iklim. Menurutnya, hal itu terjadi karena masifnya pengadaan bahan-bahan plastik seperti yang dilakukan oleh pabrik maupun industri di Indonesia.

Ia menambahkan, meski bahan-bahan plastik ini sangat berpengaruh terhadap lingkungan, namun sangat dibutuhkan dalam kehidupan. Sehingga, pihaknya mendorong kaum muda untuk berkreasi dan berinovasi menciptakan peluang usaha dan peluang kerja, terhadap sampah plastik yang berbasis adaptasi perubahan iklim.

“Jadi, sampah-sampah plastik itu dari pada mencemari lingkungan terus dibakar, mending dimanfaatkan untuk usaha kreatif seperti pembuatan sofa ini, sehingga bisa mendatangkan income buat kaum muda,” sebutnya.

Ia mengatakan, selama ini pihaknya mendukung penuh aktivitas rutin yang dilakukan oleh Kaum Muda Waioti, yaitu membersihkan lingkungan sekitar serta menemukan banyak sampah plastik termasuk botol-botol plastik. Sehingga, pihaknya berpikir untuk membuat sesuatu barang jadi dan mempunyai nilai yang lebih baik.

“Daripada sampah plastik tersebut dikumpulkan dan dijual ke para penadah, lebih baik kita buat sesuatu yang bisa menghasilkan sebuah barang jadi yang mempunyai nilai dan manfaat untuk banyak orang,” ungkapnya.

Kaum Muda Waioti mengikuti kegiatan Pelatihan Pembuatan Sofa dari Botol Plastik yang diselenggarakan PAPHA Maumere. (Foto: Yeremias Y. Sere)

Berangkat dari hal itu, pihaknya akhirnya memberikan pelatihan pembuatan sofa dari botol plastik kepada Kaum Muda Waioti bersama seorang fasilitator, Maria Angelina Deya, yang selama ini memiliki usaha pembuata sofa dari botol plastik.

“Kami sempat berdiskusi, menawarkan konsep kami. Ibu Maria, setuju untuk memberikan pelatihan ini,” terangnya.

Selain aspek kepedulian terhadap lingkungan yang selama ini sudah dijalankan kaum muda, pihaknya menginginkan agar kaum muda bisa melirik usaha ini untuk menjadi mata pencaharian. Pihaknya juga berharap agar ada wirausaha yang muncul setelah mengikuti pelatihan, yang jenis usahanya adaptif terhadap perubahan iklim.

Maria Angelina Deya, pada kesempatan tersebut menjelaskan, material yang digunakan untuk pembuatan sofa yakni botol plastik bekas ukuran 1,5 liter, lakban, hekter tembak, spon nomor 2 dan nomor 5. Sementara tripleks ukuran 5 milimter untuk meja dan ukuran 8 milimeter untuk kursi, kaki sofa, sekrup, tali rafia, paku, lem, mesin potong tripleks, paku 5 sentimeter, palu, isolasi, karpet imitasi dan meter.

“Satu kursi membutuhkan 19 botol bekas, sedangkan satu meja membutukan 36 botol, sehingga total untuk satu set sofa membutuhkan 110 botol plastik, yang terdiri dari empat unit kursi dan satu unit meja,” sebutnya.

Pantauan floreseditorial.com, usai menjelaskan material yang dibutuhkan tersebut, Ia langsung mempraktikkan cara pembuatan sofa dari botol plastik bersama Kaum Muda Waioti. Ia juga menceritakan pengalamannya, di mana dengan modal awal sebesar Rp 500.000, Ia bisa menghasilkan satu hingga dua set sofa.

“Dengan adanya pelatihan seperti ini, diharapakan mereka yang mengikutinya bisa berkreasi dan mengembangkan apa yang saya berikan hari ini. Sehingga, mereka juga bisa membantu mengurangi sampah plastik, karena sampah sekecil apapun bisa dijadikan inovasi,” jelasnya.

Sementara itu, Adriana Ance, salah seorang peserta yang mengikuti kegiatan pelatihan itu, menilai kegiatan tersebut sangat baik dan bermanfaat untuk kaum muda dalam pengembangan usaha. Bagi Anggota Penjangkau Lapangan Komisi Penangulangan AIDS Daerah (KPAD) Kabupaten Sikka ini, kegiatan ini juga bisa menjadi sumber ilmu untuk kaum muda lainnya.

“Secara pribadi, setelah mengikuti kegiatan ini, fokus saya untuk memberikan pelatihan lagi kepada peserta dampingan saya di KPAD Sikka, sehingga bisa memberikan peluang usaha baru buat mereka,” ungkapnya. (ric)

Artikel ini telah dibaca 476 kali

Baca Lainnya
x