Pertanian

Kamis, 22 Oktober 2020 - 12:57 WIB

11 bulan yang lalu

logo

Hasil panen sorgum tahun 2020 milik, Mikeal Moron. (Foto: Ben Kia Assan)

Hasil panen sorgum tahun 2020 milik, Mikeal Moron. (Foto: Ben Kia Assan)

Panen 3 Ton Sorgum, Mikael Maron Raup Rp 20 Juta

Lembata, Floreseditorial.com – Yayasan Pengembangan Sosial Ekonomi Keuskupan Larantuka (Yaspensel), menetapkan, Mikael Moron, salah satu petani sorgum di Pulau Solor, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), sebagai petani dengan panenan sorgum terbanyak di tahun 2020.

Diketahui, Mikael Moron, berhasil memanen lebih dari 3.000 kilogram atau 3 ton biji sorgum dari kebun miliknya yang berlokasi di Kalelu, Kecamatan Solor Barat.

Atas capaian tersebut, uang hasil penjualan sorgum milik, Mikael Moron, dari Pabrik Pengolahan Sorgum Yaspensel Larantuka, diserahkan secara resmi dihadapan puluhan petani dan pendamping petani sorgum dampingan Yaspensel Larantuka, Kamis (21/10/2020).

Serah terima uang pembayaran sorgum senilai hampir Rp 20 juta tersebut, diserahkan langsung Direktur Yaspensel, Romo Benyamin Daud, Pr, dihadapan peserta pembekalan petani sorgum di Dekenat Lembata, Kabupaten Lembata.

Romo Daud mengatakan, uang hasil penjualan sorgum diserahkan di hadapan para petani dan pendamping petani sorgum, untuk memotivasii para petani lain untuk lebih bersemangat membudidayakan sorgum.

“Ini bukan uang hadiah. Ini memang uang milik, Pak Mikael. Uang hasil keringatnya. Namun sengaja kita umumkan, kita serahkan di sini untuk jadi motivasi bagi petani yang lain. Pak Mikael, baru bergabung dengan urusan sorgum, bergerak sendiri hanya bersama keluarganya di rumah, namun hasil sudah cukup maksimal. Ini capaian yang bagus. Padahal, tahun ini banyak petani yang gagal,” terang Romo Daud.

Pimpinan Yaspensel ini menambahkan, semua kelompok tani sorgum dampingan Yaspensel memperoleh hasil panen yang maksimal pada musim tahun 2020. Meski demikian, volume hasil panen bervariasi karena luasan lahan yang juga bervariasi.

“Pengalaman panenan, Pak Mikael, bisa jadi motivasi bahwa jika petani dan pendamping lebih serius mengolah dan mempersiapkan lahan, maka hasil pasti akan lebih maksimal. Karena untuk masalah gangguan akibat kekeringan atau curah hujan yang rendah, itu bukan lagi soal. Karena sorgum atau Wata Holo cukup adaptif untuk iklim ekstrim kering seperti di Flores Timur dan Lembata, ” tambah Romo Daud.

Sementara itu, Program Manager Pengembangan Sorgum Yaspensel Larantuka, Maria Loreta, menjelaskan, hasil panen petani sorgum tahun 2020 sangat bagus. Ini menunjukkan bahwa tanaman ini cocok ditanam sebagai tanaman sumber pangan bagi petani. Oleh karena itu, dirinya mengharapkan para petani sorgum terutama generasi muda, untuk bisa belajar dari kesuksesan yang sudah dikecap banyak petani termasuk, Mikael Moron.

“Pak Mikael, sudah berhasil meskipun masih baru. Itu artinya, terbukti bahwa sorgum harus menjadi primadona petani Flores dan Lembata. Kami harapkan anak-anak muda bisa tergerak untuk mulai masuk dunia pertanian, khususnya sorgum. Sorgum menjanjikan masa depan. Kami menyebutnya Sorgum Bergisi Sorgum Berduit. Dan ini sudah terbukti,” jelas Loreta.

Mikael Moron, kepada media ini mengatakan, dirinya merasa puas dengan hasil panen sorgumnya di tahun 2020. Meski baru merintis usaha sebagai petani sorgum, dirinya telah menemukan bahwa sorgum menjadi tanaman sumber pangan yang sangat cocok dengan iklim dan kondisi tanah yang gersang seperti di kebun sorgumnya di Kalelu, maupun di tempat tinggalnya di Desa Karawatung, Kecamatan Solor Timur.

Ia menjelaskan, dari total 3 ton sorgum panenannya, sekitar 2,1 ton biji sorgum bersih, masuk ke pabrik pengolahan sorgum yang dikelolah Yaspensel Larantuka. Sisanya, Ia kelolah sendiri untuk konsumsi rumah tangga, sekaligus memperkenalkan tanaman pangan yang ‘bandel’ dengan iklim Pulau Solor tersebut untuk dibudidayakan.

“Jadi, hasil yang saya peroleh itu setelah saya kirim ke pabrik (pabrik sorgum di Likotuden, red). Lumayan. Saya over sekitar 2,1 ton. Yang lainnya saya siapkan untuk pangan di rumah. Juga bagi-bagi untuk ajak teman-teman di sini ikut tanam. Wata Holo memang sangat cocok di sini. Jadi saya akan kembangkan terus. Saya sudah ajak beberapa orang yang mau ikut tanam. Jadi pasti musim tanam ini akan lebih banyak lagi petani sorgum di Solor,” tutupnya. (san)

Artikel ini telah dibaca 684 kali

Baca Lainnya
x