Ekbis Pertanian

Jumat, 21 Agustus 2020 - 12:00 WIB

1 tahun yang lalu

logo

Produk-produk hasil produksi Bengkel Misi Keuskupan Maumere, yang diinisiatori oleh Yohanes Adrianus Betu. (Foto: Yeremias Yosef Sere)

Produk-produk hasil produksi Bengkel Misi Keuskupan Maumere, yang diinisiatori oleh Yohanes Adrianus Betu. (Foto: Yeremias Yosef Sere)

‘Mai Sai’ Produk Kopi Sikka Yang Dimotori Yohanes

Maumere, floreseditorial.com – Saat ini, banyak sekali produk olahan pangan yang tersebar di nusantara, tak terkecuali di Kabupaten Sikka, Flores – NTT. Produk-produk tersebut dibuat dan dikemas sebaik mungkin agar menarik minat konsumen.

Yohanes Adrianus Betu (31), bersama tiga rekannya, menangkap peluang tersebut. Mereka menciptakan produk hasil olahan pertanian lokal berkualitas dengan label ‘Mai Sai’ (artinya ‘mengajak’ dalam Bahasa Sikka).

Namun, di tengah perjuangan meraih kepercayaan publik pada produknya, teman-temannya pergi meninggalkannya. Sehingga, Ia harus berjuang sendiri mencapai cita-citanya tersebut.

Yohanes Adrianus Betu, alumni Politeknik Christo Re Maumere, bekerja di Bengkel Misi Keuskupan Maumere sebagai Kepala Bagian Pengolahan Pangan, juga menjadi leader profesional yang membantu memberikan pengetahuan, motifasi, bimbingan dan semangat bagi para petani untuk menciptakan produk olahan pangan yang bermutu, demi kesejahteraan petani itu sendiri.

Yohanes, ditemui di Bengkel Misi Keuskupan Maumere, Jumat (21/8/2020), mengisahkan, bermula dari Inovation Cell (Sistem Inkubator) yang diinisiasi oleh Keuskupan Maumere dan Atmi Surakarta (Solo) dengan mengikuti pelatihan selama enam bulan.

“Gebrakan pertama yang kita mau buat setelah pelatihan enam bulan tersebut adalah pengolahan kakao (coklat). Namun, mengalami kendala karena investasi pengolahan mesin kakao terlalu mahal dan petani kita belum bisa menjangkaunya,” kisah John.

Ia menceritakan, karena mesin sederhana pengolahan kakao sama dengan mesin pengolahan kopi, sehingga atas inisiatif dari, Romo Moko dan timnya, menyarankan untuk melakukan pengolahan kopi.

“Sekalipun Kabupaten Sikka tidak banyak mempunyai kopi, namun di Pulau Flores banyak sekali daerah penghasil kopi. Sehingga, muncullah nama Mai Sai yang dimotori kami berempat. Mai Sai dalam bahasa Sikka, Ende dan Nagekeo artinya mari/mengajak/mari kemari,” sebut John.

Menurut John, selama dua tahun, Ia berkarya bersama tiga orang temannya. Perlahan, teman-temannya pergi meninggalkan dirinya karena pemasaran hasil pengolahan kopi tersebut belum bisa bersaing dengan produk luar daerah.

“Masyarakat lebih percaya dan menikmati produk luar yang hasilnya lebih bagus dan memiliki kemasan menarik. Kita masuk ke kios-kios, ke warung-warung, orang lebih suka produk luar sehingga kita kalah bersaing,” ungkap John.

Sempat vakum selama dua tahun. Namun tahun 2019 lalu, Ia kembali mendapat panggilan dari Kepala Bengkel Misi Keuskupan Maumere, Ibu Dian Setiati, sehingga Ia memutuskan kembali berkarya dengan tetap menggunakan label Mai Sai sebagai merek dagangnya dan terus melakukan pengolahan kopi.

“Untuk kakao, kita akan coba kembangkan lagi. Pengolahan kelor dan sorgum juga kita kembangkan dengan tetap menggunakan nama Mai Sai. Pembuatan kemasan yang baik juga sedang diusahakan,” tutur John.

Agar terus berinovasi, mereka kerap mengikuti sejumlah program pemberdayaan seperti program Pemda Sikka yaitu “Bela Beli Sikka”.

Sampai saat ini, Ia harus berjuang sendiri karena belum mempunyai rekan kerja untuk bidang pengolahan tersebut. Namun, hal itu tidak menyurutkan semangatnya untuk terus berusaha, berkarya dan menghasilkan produk yang berkualitas demi kepuasan konsumen.

“Banyak pihak yang selalu mendukung dan memberikan motivasi misalnya, Keuskupan Maumere, Kampus Chisto Re Maumere, Kepala Bengkel Misi dan juga rekan kerjanya di Bengkel Misi Keuskupan Maumere,” kata John.

Ia mengaku, tantangan yang dihadapi saat ini yaitu pada para petani. Para petani mempunyai semangat yang besar untuk menghasilkan produk mereka sendiri, tetapi minimnya pengetahuan menjadi salah satu faktor penghambat.

“Itu tugas kami memberikan pengetahuan, motivasi dan dukungan buat mereka, sehingga bisa berdiri di atas kaki sendiri. Minimal, para petani bisa menghasilkan produk mereka sendiri untuk kebutuhan hidup. Bisa dijual juga kalau sudah menghasilkan lebih, sehingga mereka juga tidak bergantung pada bantuan-bantuan yang diberikan pemerintah saja,” harap John.

Ia berharap, produknya suatu saat bisa dikenal banyak orang hingga taraf nasional, sehingga dapat membantu dirinya sendiri, Kampus Christo Re Maumere dan juga orang muda yang ingin mencari pekerjaan. (ric)

Artikel ini telah dibaca 248 kali

Baca Lainnya
x