Ekbis Pertanian

Selasa, 14 Juli 2020 - 05:44 WIB

1 tahun yang lalu

logo

Produksi padi di persawahan Lembor kian menurun. (Foto: Kornelius Rahalaka)

Produksi padi di persawahan Lembor kian menurun. (Foto: Kornelius Rahalaka)

Produksi Sawah Lembor Menurun, Ini Penyebabnya

Lembor, floreseditorial.com – Produksi padi persawahan Lembor di Kecamatan Lembor, Kabupaten Manggarai Barat kian menurun. Jika sebelumnya mampu produksi 90.000 ton setiap musim panen, kini hanya 60.000 ton.

Menurunnya tingkat produksi padi di lahan tersebut disebabkan ketersediaan pupuk dan pestisida terbatas, buruknya infrastruktur irigasi serta menurunnya minat bekerja di lahan basah. Padahal sebelumnya, lahan sawah seluas 16.787 hektar itu menjadi salah satu lumbung padi di Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Menurunnya produksi padi selain disebabkan faktor eksternal juga faktor internal petani sendiri. Di mana saat ini diperkirakan, 30% petani Manggarai Barat telah beralih profesi dari petani sawah menjadi buruh, pedagang, pengembang industri rumah tangga serta bidang-bidang lainnya.

Selain menurunnya jumlah produksi padi, sekitar 10% lahan pertanian sudah dikonversi menjadi areal pemukiman penduduk atau peruntukan lainnya. Karena itu, guna meningkatkan produksi padi di kawasan itu, pemerintah melakukan berbagai langkah konkrit seperti meningkatkan persediaan pupuk, perbaikan infrastruktur serta memperluas areal budidaya padi.

Hal itu disampaikan Direktur Jenderal (Dirjen) Tanaman Pangan pada Kementerian Pertanian, Undhoro Kasih Anggoro, saat melakukan panen simbolis gerakan tanam seribu hektar di persawahan Lembor beberapa tahun lalu.

Sementara itu, Rodridues Ngatong, seorang Petugas Pendamping Lapangan (PPL) setempat menyatakan, kawasan persawahan Lembor kini dalam ancaman serius, terutama alih fungsi lahan sawah menjadi areal pemukiman penduduk.

“Sebagian area sawah sudah jadi pemukiman penduduk. Mereka bangun rumah di area persawahan sehingga lahan sawah semakin sempit. Kondisi ini bukan tidak mungkin suatu saat, Lembor sebagai gudang beras akan tinggal kenangan,” ujarnya.

Menurut Dia, untuk mengatasi alih fungsi lahan cukup sulit, karena rata-rata lahan yang digunakan untuk bangunan rumah tinggal merupakan tanah atau lahan pribadi yang mereka peroleh dari hasil transaksi jual beli.

Meski sebelumnya, pemerintah Kabupaten Manggarai Barat melarang warga bangun rumah di area persawahan karena dapat mempersempit lahan sawah. Namun, larangan tersebut nampaknya tidak efektif karena masyarakat yang bangun rumah di atas area sawah itu adalah pemilik sawah tersebut. *(kis)

Artikel ini telah dibaca 757 kali

Baca Lainnya
x