Investasi Modifikasi Pertanian

Senin, 29 Juni 2020 - 07:22 WIB

1 tahun yang lalu

logo

Yance Maring, salah satu anak muda Sikka yang belajar irigasi tetes di Israel. (Foto: Yeremias Y.S)

Yance Maring, salah satu anak muda Sikka yang belajar irigasi tetes di Israel. (Foto: Yeremias Y.S)

Sistem Irigasi Tetes Menggunakan Wi-fi dan SMS

Maumere, floreseditorial.com – Perkembangan dunia teknologi semakin hari kian berkembang pesat. Termasuk teknologi di bidang irigasi atau pengairan tanaman holtikultura yakni, sistem irigasi tetes menggunakan wi-fi dan SMS. Sistem ini diterapkan seorang anak muda dari Kabupaten Sikka, Yance Maring, yang kurang lebih sembilan bulan belajar bertani di Negara Israel. Ia menerapkan sistem irigasi tetes menggunakan Wi-fi dan SMS, sepulangnya Ia dari Negara Zionis itu.

Yance Maring, pria kelahiran Kloangpopot, 13 Maret 1989 ini, berkisah, Ia mengawali karirnya dengan mengikuti seleksi perekrutan di Kupang, NTT oleh seorang inisiator kerja sama Indonesia dan Israel yaitu, Agus Suherman. Agus Suherman, merupakan salah satu pengusaha Indonesia keturunan Tionghoa yang memiliki misi mengirim sebanyak mungkin mahasiswa Indonesia untuk belajar pertanian di Israel melalui yayasan yang dipimpinnya.

Ia menyebutkan, sekitar 200 orang mahasiswa NTT mengikuti seleksi, meliputi seleksi administrasi dan wawancara.

“Kuncinya ada di wawancara itu,” ujarnya.

Ia termasuk salah satu peserta dari sekitar 30 peserta yang dinyatakan lolos seleksi. Selain mahasiswa di Kupang, ada pula dari Maluku dan Sumatra yang mengikuti program serupa, sehingga mereka berjumlah 51 orang yang kemudian diberangkatkan ke Israel, Oktober 2018 lalu.

Untuk biaya keberangkatan dan akomodasi selama menjalani pendidikan dan pelatihan di Israel, ditanggung oleh yayasan. Ia menjelaskan, yayasan yang menanggung semua biaya termasuk pembuatan visa untuk pemberangkatan dan semua biaya tersebut akan dikembalikan kepada yayasan setelah mereka kembali dan bekerja di daerah mereka masing-masing.

“Kami akan bayar kembali per tahap, uang milik yayasan tersebut. Jadi sebenarnya, yayasan hanya membantu untuk memfasilitasi kami saja,” tuturnya.

Alumni Politani Kupang tahun 2015 ini mengisahkan, Ia bersama teman-teman belajar di Kampus AICAT (Arava International Center for Agriculture Training) Israel melalui sistem Diploma dengan masa studi sembilan bulan. Mereka belajar praktek di Moshav Ein Yahav yakni, kampung-kampung pertanian di Israel.

“Kami kuliah hanya satu kali dalam seminggu. Lima hari kami praktek di lapangan,” sambungnya.

Ia juga menjelaskan, untuk biaya makan-minum, tempat tinggal dan tempat kuliah, ditanggung oleh peserta sendiri. Untuk kuliah selama kurang lebih delapan bulan, mereka membayar sebesar ₪10.000 shekel (mata uang Israel) atau setara dengan Rp 40.000.000 (1 shekel setara dengan Rp 4.000), untuk biaya hidup selama satu bulan biasanya sekitar ₪1.000 shekel atau Rp 4.000.000. Tetapi untuk praktek lapangan, mereka mendapat bayaran sehingga bisa membiayai hidup, tempat tinggal dan kuliahnya.

“Kalau praktek satu hari, standar biasanya delapan jam. Per jam dibayar 25₪ shekel. Jadi, sebulan hitung kotor, saya dapat ₪5.000 shekel atau Rp 20.000.000 dan biaya hidup per hari rata-rata ₪20 shekel atau Rp 80.000. Tapi, kalau tambah dengan rokok berarti lebih lagi, karena harga rokok di sana ₪₪100 shekel lebih,” tuturnya.

Ia menambahkan, biaya hidup di Israel sangat mahal, sehingga Ia harus berhemat. Agar sepulangnya, Ia bisa mendapatkan sedikit uang untuk memulai karirnya sebagai seorang petani dengan menerapkan teknologi irigasi tetes berbasis wi-fi dan sms.

Contoh irigasi tetes di lahan olahan, Yance Maring. (Foto: Yeremias Y. Sere)

Keunggulan Irigasi Tetes

Sepulangnya dari Israel bulan Juni 2019, Ia mulai membuka usahanya di atas lahan seluas 1 hektar dengan sistem kontrak selama 4 tahun dengan nilai kontrak sebesar Rp 4.000.000/tahun. Lokasi itu terletak di Kelurahan Wailiti, Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka, NTT. Ditemui di tempat usahanya, Jumat (26/6/2020), Ia mengatakan, kelebihan irigasi tetes yakni hemat air dan hemat tenaga.

Ia menjelaskan, di Israel sesungguhnya kekurangan air, karena dibor sampai kedalaman ribuan meter. Namun manajemen airnya sangat bagus sehingga kelihatannya seperti kelimpahan air. Ia juga menambahkan, untuk petani, kita harus mempunyai investasi yang besar kalau mau menggunakan sistem irigasi tetes.

Dikisahkan, pertama memulai, Ia menanam tomat dan cabe pada bulan Juli 2019 dengan menggunakan selang irigasi sederhana, namun gagal karena menggunakan air galian, apalagi debit airnya sangat kurang. Ia mengaku, biaya yang Ia keluarkan cukup besar. Uang yang Ia bawa pulang dari Israel sebesar Rp 50 juta puh ludes karena usahanya gagal. Namun, Ia tak menyerah. Ia bahkan meminjam uang di bank sebanyak Rp 25 juta untuk mengembangkan usahanya.

Uang tersebut Ia gunakan untuk membeli selang Drib Tape 16 mm, Pipa PVC 1,5 inch, Konektor Selang Take Off 16 mm, Join Tape (sambungan selang jika putus), Air Valve (pengatur tekanan udara), Solenoid Valve (keran otomatis yang terhubung dengan timer/wi-fi, sms), Venturi Injector (pemupukan yang akan diinjeksi secara otomatis) dan Disc Filter (untuk memfilter kotoran). Sedangkan ada sebuah alat rakitanyang dibeli dari salah satu Alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) melalui internet, IIa namakan sendiri Modul SMS dan Wi-fi.

Januari 2020, Ia mulai menggunakan air bor untuk irigasi tetes, tetapi karena masih menanam jagung dan panennya bulan Maret 2020, sehingga akhir April 2020, Ia mulai melakukan olah lahan sekaligus melakukan irigasi tetes tersebut. Pertengahan Mei 2020, Ia mulai menanam tomat, cabe besar, cabe keriting, semangka dan jagung menggunakan irigasi tetes dengan sistem sms dan wi-fi.

Sistemnya menggunakan gravitasi, sehingga air yang mengalir dari sumur bor menuju tandon yang sudah disiapakan, selanjutnya akan di Disc Filter menuju Solenoid Valve dan dihubungkan ke Modul SMS dan Wi-fi. Dari Solenoid Valve tersebut akan dihubungkan lagi ke Air Valve menuju Pipa PVC 1,5 inch sehingga dibagi ke lahan melalui Konektor/Take Off 16 mm dan disambung ke selang Drib Tape 16 mm.

Ia menambahkan, sistem kerjanya menggunakan Wi-fi dan SMS karena di dalam Modul SMS dan Wi-fi sudah dilengkapi chip, sehingga untuk Wi-fi radiusnya hanya 100 meter saja sedangkan SMS bisa dilakukan di mana saja selama ada signal dan di handphone juga sudah diinstal program tersebut.

“Misalnya kita berada ditempat jauh, jadi tinggal pakai HP terus pakai SMA saja keran satu mati, maka ada balasan keran satu mati, keran hidup pasti ada balasan juga. Sedangkan Wi-fi hanya untuk dalam lokasi lahan olahan saja, tetapi kita juga bisa membuatkan timer sehingga alat itu bisa hidup dan mati secara otomatis, sesuai waktu yang kita tentukan,” jelas Yance, yang juga mantan Ketua Generasi Pelajar Nasionalis Sikka ini.

Ia juga menjelaskan, biaya yang Ia keluarkan untuk membeli alat-alat irigasi tetes di China tersebut sekitar Rp 30.000.000, Modul SMS dan Wi-fi Rp 2.000.000 dan alat lainnya. Ia mengaku, biaya yang sudah Ia keluarkan sekitar Rp 40.000.000 dan diperkirakan sampai panen bulan Juli 2019 bisa mencapai Rp 50.000.000. (eri)

Artikel ini telah dibaca 640 kali

Baca Lainnya
x