Ekbis

Jumat, 26 Juni 2020 - 09:55 WIB

8 bulan yang lalu

logo

Kawasan padang savana di Nagekeo, cocok untuk pengembangan ternak. (Foto: Kornelius Rahalaka)

Kawasan padang savana di Nagekeo, cocok untuk pengembangan ternak. (Foto: Kornelius Rahalaka)

Padang Savana Luas, Cocok Untuk Peternakan

Mbay, floreseditorial.com – Sebagian besar wilayah Kabupaten Nagekeo di Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur, terdiri dari padang savana yang luas. Potensi alam ini sangat cocok untuk pengembangan usaha peternakan. Sebut misal, di kawasan Kecamatan Aesesa dan Kecamatan Wolowae yang terletak di bagian timur Ibukota Mbay, merupakan kawasan yang memiliki bentangan alam padang savana luas. Kedua wilayah tersebut sangat cocok dijadikan area peternakan sapi, kerbau, kuda, kambing dan domba.

Potensi peternakan di wilayah ini boleh di bilang sangat menjanjikan peningkatan perekonomian masyarakatnya. Sayangnya, hingga kini belum dimanfaatkan secara maksimal. Ribuan hektar padang savana membentang luas dari wilayah pesisir Nggolonio di ujung barat hingga Kaburea di ujung timur, merupakan kawasan yang dapat dijadikan sebagai pusat-pusat pengembangan peternakan. Bila dikelola secara profesional, bukan tidak mungkin, wilayah Nagekeo menjadi daerah produsen ternak terbesar di Flores sekaligus menjadi kawasan wisata menarik untuk dikunjungi wisatawan.

Selama ini, masyarakat Nagekeo umumnya masih beternak secara tradisiona dengan jumlah ternak yang cukup terbatas. Hewan peliharaan seperti sapi, kerbau, kuda, kambing dan domba dipelihara dengan pola dan cara-cara tradisional, antara lain diikat atau dibiarkan berkeliaran dari satu lokasi ke lokasi lain atau dengan memberi makan dari pakan makanan yang telah disediakan oleh alam. Pola dan kebiasaan beternak seperti ini telah berlangsung lama.

Minimnya pengetahun dan keterampilan serta kurangnya inovasi-inovasi tentang beternak membuat para peternak kurang berkembang dan menghambat kemajuan perekonomian mereka. Belum lagi sulitnya akses pasar sering pula meruntuhkan semangat para peternak dalam berusaha ternak. Pada umumnya, hasil ternak mereka dijual dengan harga murah kepada tengkulak atau pembeli yang datang dari luar daerah. Biasanya, para peternak menjual hewan peliharaan mereka dalam bentuk gelondongan (hewan hidup) dengan harga yang relatif murah, tergantung pada berat dan jenis hewan.

Hewan-hewan itu diangkut ke luar wilayah dengan menggunakan kapal dan hanya segelintir yang dijual dalam bentuk daging. Hingga kini, menurut informasi, belum ada usaha atau terobosan pemerintah daerah untuk memperhatikan bidang peternakan ini secara lebih serius dan maksimal, baik dalam hal pola beternak maupun cara pengelolaan dan pemasaran. Seperti diungkapkan, Rofinus Lado, seorang peternak di kampung Paringantin, Desa Nggolonio.

“Pada umumnya, warga memelihara sapi, kambing, kuda, kerbau, domba atau babi untuk upacara adat atau mengisi waktu luang. Hanya sedikit orang yang berpikir untuk jual. Para peternak belum berorientasi pada pasar lantaran tidak tahu ke mana mereka harus menjual hewan peliharaan mereka. Kalau pun ada yang beli, biasanya orang-orang itu membeli dalam keadaan hidup untuk dibawa ke luar daerah,” tuturnya.

Aktivitas jual beli hewan hidup seperti sapi, kerbau, kuda, kambing dan domba di daerah ini kian marak sejak daerah ini dimekarkan menjadi sebuah daerah kabupaten otonom baru pada tahun 2007 lalu, terpisah dari kabupaten induk, Ngada.

Potensi peternakan yang dimiliki daerah ini cukup menjanjikan peningkatan kesejahteraan masyarakat, lantaran didukung oleh ketersediaan alam berupa padang savana luas dengan akses pasar yang lumayan besar. Oleh karenanya, pemerintah diharapkan lebih serius memperhatikan bidang peternakan, melalui program-program yang menyentuh langsung potensi unggulan di wilayah ini. *(Kornelius Rahalaka)

Artikel ini telah dibaca 985 kali

Baca Lainnya
x