Ekbis

Rabu, 17 Juni 2020 - 10:57 WIB

9 bulan yang lalu

logo

Sebagian rumah penduduk Ngada  terbuat dari bambu.(Foto: Kornelius Rahalaka)

Sebagian rumah penduduk Ngada terbuat dari bambu.(Foto: Kornelius Rahalaka)

Ngada, Kabupaten Sejuta Bambu

Ngada, floreseditorial.com – Asri, nyaman dan menawan. Itulah Kabupaten Ngada di Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Wilayah Ngada merupakan salah satu daerah penghasil utama bambu. Tidak heran, jika wilayah Ngada disebut-sebut sebagai kabupaten sejuta bambu.

Jika Anda pernah ke wilayah ini, segera tertangkap oleh mata, hutan bambu yang tumbuh secara alamiah di sisi kiri dan kanan jalan. Hampir di banyak kampung atau desa, kita temukan rumah-rumah penduduk yang terbuat dari bambu. Seperti di Desa Dada Wea, Kecamatan Golewa Tengah, Desa Wawo Wae, Kecamatan Bajawa, Desa Bei Wali, Watuata, Watujaji, Mala Nusa dan banyak desa lain di sekitarnya.

Bambu bagi masyarakat Ngada memiliki multi fungsi selain untuk bahan bangunan seperti untuk atap rumah, dinding dan bale-bale, juga untuk kandang babi, kambing, sapi, kerbau atau unggas. Bambu juga untuk dibuat rak buku, lemari dan perkakas rumah tangga.

Sebagian besar pohon bambu adalah hasil budidaya penduduk setempat dari zaman dulu. Namun sebagian lainnya bertumbuh secara alamiah di kawasan hutan.

Sejumlah warga yang ditemui floreseditorial.com menuturkan, pada zaman dulu, era tahun 1970-an wilayah Ngada khususnya Kota Bajawa dan Golewa merupakan kawasan hutan bambu terluas di daerah ini, namun sekitar 10 tahun belakangan ini, hutan bambu kian terancam punah. Merosotnya hutan bambu sebagian akibat perilaku buruk masyarakat yang melakukan perambahan secara liar, untuk membuka kebun baru atau untuk memenuhi kebutuhan pembangunan perumahan warga.

“Kalau dulu, daerah ini merupakan hutan bambu, tapi belakangan semakin hilang akibat dirambah masyarakat untuk buka kebun atau pembangunan rumah,” ujar Wilhelmina Dhay, petani asal Golewa.

Padahal menurut Dia, bambu selain untuk bahan bangunan juga sangat baik untuk mencegah banjir atau longsor. Biasanya, di setiap kebun warga ditanami bambu untuk mencegah erosi. Bambu juga berfungsi sebagai naungan bagi tanaman lain seperti kopi atau coklat. Namun, hutan bambu kini terancam hilang akibat ulah perambah hutan yang bertindak kurang mempertimbangkan aspek ekologis lingkungan.

Di kampung Dada Wea, Kecamatan Golewa Tengah, terdapat hutan bambu yang mengitari bukit Golewa. Di kampung itu, kita bisa saksikan puluhan rumah penduduk terbuat dari batang bambu baik untuk atap, dinding maupun untuk bale-bale dan fasilitas rumah tangga lainnya. Keasrian dan kenyamanan begitu terasa, bila memasuki rumah-rumah penduduk yang berdiri kokoh diintari ribuan pohon bambu.

Rumah-rumah bambu tersebut memberikan rasa nyaman tiada tara. Suasana sejuk menyeruak dan memberi rasa nyaman bagi para penghuni dan setiap orang yang datang. *(Kornelius Rahalaka)

Artikel ini telah dibaca 681 kali

Baca Lainnya
x