Ekbis

Jumat, 12 Juni 2020 - 11:49 WIB

11 bulan yang lalu

logo

Kawasan Boleng yang kaya sumber daya alam tapi miskin perhatian pemerintah. (Foto: Kornelius Rahalaka)

Kawasan Boleng yang kaya sumber daya alam tapi miskin perhatian pemerintah. (Foto: Kornelius Rahalaka)

Kawasan Boleng; Kaya Potensi, Miskin Perhatian

Boleng, floreseditorial.com – Kecamatan Boleng tergolong wilayah yang masih cukup tertinggal dari sisi pembangunan insfrastruktur maupun pengembangan potensi sumber daya alamnya. Padahal, kawasan Boleng hanya berjarak tempuh sekitar 1,5 jam dari Labuan Bajo, Ibu Kota Kabupaten Manggarai Barat atau sekitar 50 Km. Meskipun jaraknya relatif dekat dengan ibu kota kabupaten, namun potret pembangunan di wilayah ini boleh dibilang masih jauh dari yang diharapkan.

Dari aspek ketersediaan pelayanan publik terutama infrastruktur jalan dan jembatan, Boleng masih sangat jauh ketinggalan. Ruas jalan yang sudah beraspal baik (hot-mix) hanya sekitar 20 Km, selebihnya jalan tanah atau jalan beraspal tapi sebagian besar sudah dalam kondisi rusak. Kerusakan akibat tergerus air hujan di musim barat atau karena hilir mudik kendaraan yang saban hari melewat di jalur jalan itu. Ruas jalan relatif baik terdapat di pertigaan Kampung Nggorang sampai di Kampung Lando sedangkan kondisi jalan menuju dataran rendah Terang, Ibu Kota Kecamatan Boleng dalam kondisi memprihatinkan.

Selain jalan ruas jalan yang rusak parah, kondisi beberapa jembatan pun tidak jauh berbeda. Selain rusak akibat tergerus banjir dan lonsor juga telah termakan usia. Warga setempat mengungkapkan, selama ini daerah Boleng masih menyandang kategori 3T yakni terpencil, terisolir dan tertinggal. Pada musim hujan dengan intensitas curah hujan yang tinggi, wilayah yang terkenal penghasil utama beras dan palawija ini nyaris terisolasi dari wilayah lain.

Meskipun Terang dan Kecamatan Boleng pada umumnya memiliki potensi sumber daya alam yang besar namun nyaris tak banyak perubahan yang dilakukan oleh pemerintah. Kondisi jalan yang menghubungkan beberapa desa di wilayah tersebut seperti Desa Sepang, Desa Golo Sepang dan Desa Golo Ketak sangat buruk. Bila musim hujan, warga dibuat cemas. Bila banjir bandang melanda, warga terpaksa tak bepergian ke mana-mana atau bila ada warga yang terlanjur terjebak dalam perjalanan, mereka terpaksa harus menunggu berjam-jam hingga banjir redah baru mereka melanjutkan perjalanan.

Warga yang paling menderita tentu saja para pegawai, guru dan anak sekolah.Tak jarang mereka terpaksa meninggalkan kantor dan proses belajar mengajar di sekolah. Wilayah Kecamatan Boleng memang merupakan salah satu lumbung pangan bagi masyarakat Manggarai Barat. Dataran rendah Terang, Tanjung Boleng, Lando dan Golo Ketak misalnya, merupakan daerah yang potensial untuk pengembangan pangan dan tanaman hortikulura.

Beragam tanaman perdagangan seperti jambu mete, vanili, kemiri, kelapa, pisang, cengkeh, jati dan tanaman buah-buahan lainnya dapat bertumbuh subur di lahan-lahan pertanian. Kecamatan Boleng dikenal sebagai salah satu kantong produksi pangan khususnya beras meskipun hampir 90% adalah sawah tadah hujan. Buruknya infrastruktur seperti jalan dan jembatan sangat menghambat akselerasi pembangunan di wilayah itu. Kekayaan sumber daya alam yang melimpah tidak menjamin warga masyarakatnya hidup sejahtra jika tidak dibarengi infrastruktur publik yang memadai.

Desa Golo Ketak, Tanjung Boleng, Golo Sepang, Sepang, Lando dan Mbuit hanya untuk menyebut nama beberapa desa di wilayah itu yang memiliki beragam sumber daya alam. Bukan hanya potensi di darat tetapi juga memiliki potensi sumber daya kelautan yang kaya. Hasil laut seperti ikan, udang, kepiting, rumput laut dan teripang merupakan komoditi yang belum dijamah secara maksimal. Banyak nelayan masih menggunakan alat-alat tradisional untuk menangkap ikan.

“Kami masih menggunakan alat tangkap tradisional seperti pukat atau alat mancing,”ujar Abdul Rajab, seorang nelayan yang diitemui di Kampung Terang Jumad pekan lalu.

Minimnya sarana prasarana seperti kapal, alat tangkap dan permodalan menjadi kendala utaama baagi para nelayan dalam upaya peningkatan kesejahteraan hidupnya. Persoalan lain yang yang tak kalah memprihatinkan yakni kondisi pemukiman penduduk yang terkesan kumuh dan jorok sehingga sangat rentan terhadap berbagai wabah dan penyakit. Sanitasi lingkungan yang buruk membuat banyak nelayan terserang beraneka penyakit. *(kis)

Artikel ini telah dibaca 644 kali

Baca Lainnya
x