Ekbis Pertanian

Kamis, 21 Mei 2020 - 04:26 WIB

2 minggu yang lalu

logo

Areal Persawahan Lembor. (Foto: Ist)

Areal Persawahan Lembor. (Foto: Ist)

Kaya Potensi, Minim Perhatian

Kabupaten Manggarai Barat memiliki potensi pertanian, khususnya potensi perkebunan dan tanaman pangan yang cukup besar. Komoditi-komoditi perkebunan yang sangat potensial antara lain jambu mete, kelapa, kemiri, jarak pagar, kakao, kopi, cengkeh dan vanili. Sementara untuk tanaman pangan, daerah ini memiliki potensi padi sawah yang cukup signifikan dan tanaman-tanaman pangan semusim lahan kering seperti jagung, singkong, petatas, kacang hijau dan kedelai.

Potensi lahan yang cocok untuk komoditi-komoditi tersebut di atas cukup besar dan menunjukkan semua komoditi dimaksud, layak untuk dikembangkan di wilayah ini.

Hasil study tentang agro ecological zona yang dilakukan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Manggarai Barat bekerjasama dengan PT. SIARPLAN UTAMA membuktikan hal ini.

Zonasi agroekologi atau agro ecological zone merupakan salah satu pendekatan dalam penataan penggunaan lahan, melalui pengelompokan wilayah menurut kesamaan sifat dan kondisi kawasan, ditinjau dari aspek kebutuhan lingkungan pertanaman.

Pengelompokan dimaksud bertujuan untuk menetapkan kawasan sentra produksi dan jenis kemoditi yang dikembangkan. Dengan skala ekonomi yang layak, dengan kebutuhan pengelolaan yang tepat untuk mendapatkan kawasan-kawasan usaha produksi tanaman yang produktif, menguntungkan dan berkelanjutan.

Tanaman jambu mete misalnya, sudah dibudidayakan secara luas di daerah ini terutama di Kecamatan Lembor, Sano Nggoang, Boleng dan Macang Pacar. Total areal yang cocok untuk tanaman jambu mete yakni sekitar 91,300 hektar yang menyebar hampir di semua kecamatan kecuali di kecamatan Kuwus. Dengan total luas areal potensial mencapai 14.300 hektar, masuk dalam kategori sesuai bersyarat dan 77.000 hektar lainnya, termasuk ke dalam kelas sesuai marginal.

Demikian pula dengan potensi kakao, tergolong cukup besar meskipun budidaya kakao di daerah ini belum meluas. Namun, total areal untuk budidaya tanaman kakao mencapai sekitar 165.000 hektar. Sebagian besar diantaranya termasuk katergori sesuai atau cocok. Namun, kendala utama bagi budidaya kakao yakni masalah kemiringan lahan dan ketersediaan air.

Kecamatan-kecamatan yang paling potensial untuk produksi kakao yakni Kecamatan Welak, Komodo dan Sano Nggoang. Potensi lain yang dapat dikembangkan yakni tanaman jarak pagar. Potensi jarak pagar merupakan tanaman komoditi yang sangat penting dan strategis, terutama terkait dengan isu bio-energy.

Meskipun petani di wilayah ini belum mengembangkannya, namun potensi lahan yang sesuai untuk tanaman jarak pagar tergolong sangat besar. Total luas areal yang sesuai untuk tanaman ini mencapai 117,160 hektar. Dari luasan tersebut, 102,420 hektar tergolong sesuai marginal dan sisanya 845 hektar sangat sesuai, serta 14,265 hektar sesuai bersyarat.

Kawasan-kawasan utama yang cocok untuk pengembangan jarak pagar adalah Komodo, Lembor, Sano Ngogang dan Macang Pacar

Selain itu, tanaman kemiri merupakan komoditi utama sudah ditanam secara luas di hampir seluruh wilayah Manggarai Barat. Dengan total luas lahan yang cocok dengan budidaya kemiri mencapai 260,000 hektar. Dari luasan tersebut, 17,400 hektar diantaranya merupakan lahan dengan tingkat kesesuaian bersyarat dan sisanya sesuai marginal.

Kecamatan-kecamatan dengan potensi kemiri terbesar yakni Komodo, Sano Nggoang, Lembor dan Macang Pacar.

Demikian pula untuk tanaman kelapa, juga tergolong cukup besar yakni mencapai 110,000 hektar. Sebagian besar di antaranya yakni 104,000 hektar memiliki tingkat kesesuaian marginal dan hanya 6,000 hektar tergolong sesuai bersyarat.

Kecamatan-kecamatan dengan luas areal yang terbesar yakni Komodo, Sano Nggoang, Lembor dan Macang Pacar.

Sedangkan tanaman kopi dan cengkeh merupakan dua komoditi perkebunan yang sudah lama dikenal dan dibudidayakan oleh masyarakat di wilayah ini. Kedua jenis tanaman ini dibudidayakan di daerah dataran tinggi di atas 700 meter dari permukaan laut.

Cengkeh dan kopi merupakan dua tanaman yang memiliki persyaratan lingkungan tumbuh yang sama, meskipun kopi terutama jenis robusta juga dapat tumbuh baik di dataran rendah. Luas lahan untuk budidaya kopi dan cengkeh mencapai 8,000 hektar yang menyebar di wilayah-wilayah dataran tinggi seperti di Kecamatan Kuwus, Welak, Lembor, Sano Nggoang dan Macang Pacar.

Selain tanaman perkebunan seperti tersebut di atas, luas lahan yang sesuai untuk budidaya tanaman pangan semusim lahan kering juga sangat besar yakni mencapai 95,000 hektar. Luas lahan yang sesuai untuk produksi padi sawah yakni sekitar 36,000 hektar.

Dari total luas lahan yang sesuai untuk usaha tani sawah tersebut, sekitar 5,800 hektar diantaranya tergolong ke dalam tingkat kesesuaian yang sangat tinggi dan 31,200 hektar sesuai bersyarat. Dari total luas lahan yang sesuai untuk tanaman pangan semusim lahan kering yakni 95,000 hektar, seluas 24,650 hektar diantaranya tergolong kedalam kelas sesuai bersyarat dan sisanya 71,350 hektar sesuai marginal.

Kawasan-kawasan utama pengembangan padi sawah adalah Lembor, Komodo, Boleng dan Macang Pacar.

Potret potensi sumber daya alam yang dimiliki oleh Kabupaten Manggarai Barat di atas semakin menegaskan bahwa rakyat Manggarai Barat sesungguhnya tidak layak miskin. Rakyat khususnya para petani yang sehari-hari bergelut dengan dunia pertanian dapat hidup layak dan berkecukupan. Mereka hidup dan menuai apa yang mereka tanam di lahan atau kebun mereka sendiri tanpa perlu bergantung kepada segala bantuan yang digelontorkan oleh pemerintah atau para donator.

Kekayaan sumber daya alam di wilayah ini dapat dikembangkan secara lebih maksimal untuk kemakmuran bersama. Namun, kekayaan tersebut hanya menjadi kebanggan semu jika tidak dikelolah secara optimal lantaran minimnya perhatian pemerintah dalam mewujudkan cita-cita kesejahtraan bersama.

*(Kornelius Rahalaka)

Artikel ini telah dibaca 154 kali

Baca Lainnya
x