Ekbis Pertanian

Kamis, 21 Mei 2020 - 03:56 WIB

2 minggu yang lalu

logo

Areal Persawahan Irigasi Mbay. (Foto: Ist)

Areal Persawahan Irigasi Mbay. (Foto: Ist)

Kawasan Irigasi Mbay Lumbung Padi NTT

Kawasan Irigasi Mbay, di wilayah utara Kabupaten Nagekeo merupakan salah satu lumbung pangan (beras) bagi masyarakat Nagekeo, Flores bahkan NTT. Menurut data BPS NTT, tahun 2009 NTT memproduksi 610,970 ton GKG atau setara 397.131 ton beras. Produksi ini jauh dari kebutuhan konsumsi beras NTT pada tahun yang sama yaitu mencapai 523,136 ton beras.

Luas kawasan irigasi Mbay kurang lebih 3.638 ha, di mana luas kawasan yang dimanfaatkan (luas fungsional) adalah 2.944,62 ha. Kawasan ini dialiri air irigasi dengan jumlah pintu tersier sebanyak 83 pintu yang dikelola oleh 38 petani kelompok P3A (petani pengelola dan pemakai Air), dengan jumlah petani sebanyak 3.323 orang.

Petani tersebut juga teroganisir dalam kelompok tani, di mana total kelompok tani yang ada di kawasan ini kurang lebih 203 petani. Luas kepemilikan petani berkisar 0.5 hingga 2 ha/petani, yang diperoleh petani dari pembagian oleh pemerintah (rata-rata dapat 1 ha/petani), sejak kawasan irigasi ini dibuka pemerintah pada jaman Orde Baru (sekitar tahun 1970-an).

Dengan tingkat produksi saat ini mencapai 3.5 ton/ha dan 2 kali musim tanam per tahun, maka kawasan ini mampu memproduksi sekitar 10.306 ton atau 20.612 ton/tahun atau setara 13.398 ton beras per tahun. Bila dibandingakn dengan produksi gabah di NTT, maka kawasan irigasi Mbay hanya memberi kontribusi sebesar 3.37% dari total produksi NTT.

Namun, kontribusi kawasan irigasi Mbay sebetulnya bisa ditingkatkan bila tata kelola produksinya bisa diperbaiki. Rendahnya produktivitas padi di kawasan irigasi Mbay ini terjadi karena, hama penyakit dan penurunan mutu lahan akibat penggunaan input kimia tinggi (pestisida dan pupuk buatan), kerusakan saluran irigiasi dan pola tanam yang tidak serentak.

Sejauh ini, ada tiga kategori cara budidaya padi di kawasan ini dilihat dari input yang dipakai oleh para petani:

Pertama, pola budidaya padi konvensional yaitu yang menggunakan input kimia tinggi. Cara ini masih merupakan pola dominan yang masih dilakukan oleh mayoritas petani di kawasan ini, dan diindikasikan menjadi salah satu sebab utama penurunan produksi menjadi 3-4 ton/ha dari potensi produksi 6-7 ton/ha selain karena tanam tidak serentak, kerusakan sistem irigasi dan alam.

Kedua, cara budidaya semi organik yaitu cara budidaya di mana petani sudah mencoba menggunakan input organik terutama pupuk organik yang diproduksi sendiri, tapi masih sangat bergantung pada beberapa input kimia terutama herbisida karena serangan gulma yang sangat tinggi.

Ketiga, golongan minoritas yaitu petani yang secara konsisten menggunakan seluruh input organik dalam budidaya padi.

Golongan kedua dan ketiga ini, mulai muncul sejak adanya promosi pertanian organik yang dilakukan oleh LSM dan mitranya, maupun oleh pemerintah sendiri.

Saat ini para petani dan stakehoder terus bergumul mencari model terbaik tata kelolah kawasan irigasa Mbay, baik dari aspek produksi maupun tata niaga berasnya, demi menjamin keberlangsungan kawasan ini sebagai sumber pangan dan sumber pendapatan penting bagi petani dan para aktor lain yang terlibat dalam pemasaran beras.

Mayoritas petani di kawasan ini memperoleh uang dari hasil penjualan beras. Pasar utama beras dari kawasan ini selain pasar lokal di Nagekeo, juga di kabupatan lain di Flores antara lain Ngada, Ende, Maumere, Manggarai, Larantuka dan bahkan Kupang.

Biasanya penjualan ke luar wilayah Mbay dilakukan oleh para pemilik penggilingan dan para pedagang lainnya. Mitra pedagang ini antara lain para pengecer yang ada di tiap kota kabupaten di Flores.

Bagi kebanyakan petani, uang yang diperoleh dari hasil penjualan beras dipakai untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga petani mulai dari kebutuhan konsumtif harian, pembangunan rumah, biaya pendidikan, biaya kesehatan dan adat istiadat.

Namun, pendapatan petani dari padi dirasa tidak cukup dibandingkan dengan tingkat kebutuhan mereka yang terus meningkat. Kecilnya pendapatan ini, selain karena persoalan produksi yang cenderung menurun, juga karena petani merasa bahwa harga dan pendapatan yang mereka peroleh masih sangat rendah.

Kenyataannya, sistem pemasaran beras yang berjalan kurang dipahami dan dikuasai oleh para petani maupun para lembaga pendampingnya. Itu sebabnya kemampuan dalam melakukan analisis saluran pemasaran yang ada sangat terbatas. Kondisi ini seringkali dimanfaatkan oleh para pedagang beras yang ingin menikmati laba yang besar, yang kemudian merugikan petani sebagai produsen.

Selain itu, dalam konteks pendampingan petani, sulit ditentukan ke arah mana petani akan diberdayakan dalam tata niaga beras yang ada. Maka, sangat penting untuk melakukan kajian tentang usaha tani padi dan peta saluran pemasaran beras, untuk melihat potensi pasar yang baik dan peluang peningkatan produksi, demi meningkatkan pendapatan petani dan sekaligus memenuhi kebutuhan beras di NTT.

*(Kornelius Rahalaka)

Artikel ini telah dibaca 182 kali

Baca Lainnya
x