Pertanian

Sabtu, 9 Mei 2020 - 05:43 WIB

1 tahun yang lalu

logo

Kemiri, merupakan salahasatu hasil bumi masyarakat Lembata (Foto: Ben Kia Asan)

Kemiri, merupakan salahasatu hasil bumi masyarakat Lembata (Foto: Ben Kia Asan)

Harga Anjlok, Petani Enggan Jual Kemiri

Floreseditorial.com, Lembata – Para petani dan pengepul kemiri di Kabupaten Lembata merugi hingga puluhan juta rupiah. Sebagian petani mengaku enggan menjual kemiri mereka karena harganya jatuh.


Wirmina Prada (59 tahun), petani kemiri di Desa Belabaja Kecamatan Nagawutung mengaku enggan menjual kemirinya lantaran harga yang tidak layak.

Ia menyebutkan, harga biji kemiri tanpa cangkang yang sebelum pandemi covid bisa mencapai Rp 18.000-Rp 20.000, kini anjlok hanya berkisar antara Rp 7.000 –Rp.10.000 per kilogram. Sedangkan untuk biji kemiri dengan cangkang (kemiri kulit), harga sebelum pandemi covid 19 adalah Rp 5.000/kg kini hanya sekitar Rp.2.500/kg.

“Biar urus kerja lain dulu. Kemiri jangan timbang dulu. Mereka (pedagang) hanya beli dengan harga 7 ribu. Ada yang hanya sepuruh ribu.” Keluh Mina kepada floreseditorial.com di rumahnya, Jumad, (8/5/2020).

Merosotnya harga beli kemiri baik biji maupun kulit (cangkang) diakui pula oleh dua pengepul kemiri di Lembata. Markus Corsini Raring, pengepul asal Desa Lewoeleng, Kecamatan Lebatukan Lembata mengaku rugi hingga 20-an juta rupiah sejak pandemi covid 19.

“Terakhir saya antar ke Lewoleba (penimbun kabupaten-red) sebelum paskah. Saya beli sekitar Rp 17 jutaan. Tapi akhirnya saya putuskan untuk bawa pulang, karena mereka penimpun mau beli hanya dengan harga Rp 4.500/kilogram. Padahal saya beli dengan harga lima ribu rupiah. Itu untuk kemiri bulat (masih ada cangkangnya, red),” kata Raring dengan nada kecewa yang dimintai keterangannya via telepon, Sabtu, (9/5/2020).

Ia menyebutkan saat ini masih belasan ton kemiri masih tertampung di gudang rumahnya. Untuk mengembalikan modalnya usahanya, ia relah menyewa sejumlah warga untuk mensortir atau memisahkan biji kemiri dari cangkangnya.

Untuk itu, ia un terpaksa harus merogoh koceknya sebesar Rp 50.000 per hari. Ia mengaku menunggu virus berlalu dan harga kembali naik baru ia bisa menjualnya agar usahanya tetap berjalan.

Namun pengepul lain, Paulus Genere dari Desa Belabaja, Kecamatan Nagawutung mengaku pihaknya tetap nekad membeli kemiri dari petani. Ia mengatakan meskipun harga kemiri jatuh selama masa corona namun ia optimistis harga akan kembali naik setelah berakhirnya pandemic ini.

“Biar harga jatuh, saya tetap beli dari petani. Saya tampung saja. Kondisi begini, pasti banyak yang butuh uang. Memang terpaksa lebih murah. Saya beli dengan harga dua ribu lima ratus rupiah untuk kemiri kulit dan untuk kemiri isi, saya beli dengan harga sepuluh ribu.” Ujarnya.

Penulis: Benediktus Kia Assan
Editor : Kornelius Rahalaka

Artikel ini telah dibaca 1376 kali

Baca Lainnya
x