Wisata

Kamis, 7 Mei 2020 - 16:12 WIB

1 tahun yang lalu

logo

Perkampungam Nelayan Desa Wisata Tradisi Penangkapan Ikan Paus  Lamalera Lembata. (Foto: Ben Kia Assan)

Perkampungam Nelayan Desa Wisata Tradisi Penangkapan Ikan Paus Lamalera Lembata. (Foto: Ben Kia Assan)

Dikepung Corona, Sektor Pariwisata di Lamalera Nol Persen

Floreseditorial.com, Wulandoni– Pandemi covid 19 turut meremukkan sektor pariwisata di Lamalera B, Kecamatan Wulandoni, Kabupaten Lembata. Omzet pelaku pariwisata di desa yang populer dengan tradisi penangkapan ikan paus secara tradisional ini anjlok hingga nol persen. Lumpuh total.

Felmina Homestay adalah salah satu unit usaha pendukung pariwisata di Lamalera sudah merasakan dampaknya. Sejak pemberlakuan larangan transportasi dan mobilisasi manusia antar wilayah demi mencegah penyebaran virus corona April silam, jasa penginapan ini tak punya pemasukan.

Rafael Miku Beding, saat ditemui floreseditorial.com di Desa Lamalera B, Kamis (07/05/2020) menuturkan, sejak pemberlakukan aturan itu tidak ada wisawatan yang datang ke Lamalera dan menginap di Felmina Homestay. Beberapa wisatawan yang sudah booking terpaksa menunda kedatanganya. Bahkan ada juga yang batal sama sekali.

“Mayoritas yang datang nginap di Felmina adalah wisatawan grup. Mereka berkelompok lebih dari 10 orang. Sebelumnya sudah booking. Tapi akhirnya dibatalkan. Yang mancanegara banyak yang dari Italia. Tapi kita tahu Italia, kan? Keadaannya cukup parah karena virus corona ini. Jadi kalau mau hitung soal persentasi pengunjung dan pemasukan, ya…nol persen!” tutur Felmi dan Rafael Miku Beding akrab disapa menjelaskan.

Felmina Homestay adalah satu dari 25 home stay di Lamalera baik Desa Lamalera A maupun Lamalera B. Menurut Felmi, semua homes tay mengalami keadaan serupa. Homestay adalah salah satu unit usaha pariwisata di Lamalera, selain transportasi dan paket perjalanan dalam tradisi leva. Sektor industri kreatif pernak-pernik hasil laut pun ikut terpuruk.

Leva adalah sebuah tradisi penangkapan ikan paus secara tradisional. Dijalankan oleh masyarakat kampung Lamalera sejak masa lampau. Seperti sebelumnya, musim Leva dimulai tepat 1 Mei 2020. Ditandai dengam sejumlah ritual adat dan perayaan misa sesuai tradisi gereja Katholik.

Bulan Mei merupakan awal pembuka musim Leva. Sekaligus bulan penuh rezeki dari sektor pariwisata hingga Juni dan Juli. Tapi tidak untuk Mei-Juli tahun 2020 ini. Semuanya sirna. Virus corona telah mencabut semua rejeki itu. Rejeki seakan terbang bersama keganasannya.

Senada dengan Felmi, Jefri Bataona pun mengamini anjloknya sektor pariwisata. Rumah Jefri juga sering jadi home stay bagi wisatawan.

” Kalau di Felmina kamarnya banyak. Kami yang lain paling sediakan satu atau dua kamar. Tapi sekarang memang kosong. ” jelas Jefri.

Sebanyak sembilan kamar yang disediakan Felmina Home stay. Padahal biasanya selalu penuh di bulan Mei. Menurut Felmi sang pemilik, jika tidak ada corona, omzet penginapan miliknya cukup lumayan. Jika digabungkan dengan penginapan lain, nilai Rp 30 jutaan sudah bisa diraih.

Hilangnya penghasilan juga datang dari paket wisata laut. Menurut Jefri Bataona, pemilik sampan, boat dan pledang juga turut mengalami nasib sama akibat terpaan covis 19.

” Biasanya wisawatan suka ikut ke laut saat musim leva. Mereka mau lihat bagaimana nelayan menangkap ikan paus. Cukup dengan Rp 200.000, satu wisatawan sudah bisa menumpang pledang atau boat. Tapi saat ini praktis tidak bisa dapat. Semuanya hilang lenyap, ” jelas Bataona.

Pledang adalah satu-satunya perahu berlayar tanpa mesin karya tangan asli nelayan Lamalera. Pledang dibuat khusus untuk berlayar menangkap ikan paus. Meski hilang rejeki, Rafael Miku Beding, tak memaksakan keadaan. Ia lebih memilih menunggu hingga covid 19 benar-benar hilang.

” Memang kita harap supaya wisawatan datang lagi. Tapi kita harus saling dukung sampai corona benar-benar hilang. Kalau kita di sini (Indonesia, red) sudah bebas dari virus itu, sebaiknya kita pastikan juga seluruh dunia bersih. Karena banyak wisatawan asing datang ke sini. Negara asal mereka juga saat ini masih krisis soal corona” tambah Beding.

Musim Leva punya pesona unik untuk didatangi wisatawan. Jika corona berangsur pulih segera, Felmina Home stay mungkin masih bisa kedatangan tamu. Setidaknya sampai Oktober, akhir dari periode musim leva.

Penulis: Benediktus Kia Assan
Editor : Kanis Lina Bana

Artikel ini telah dibaca 2345 kali

Baca Lainnya
x